English (United Kingdom)Arabic(السعودية)Indonesian (Indonesia)
Membangun Budaya Berwakaf PDF طباعة إرسال إلى صديق
Berita Wakaf
الثلاثاء, 07 مايو 2019 01:46

Ketua BWI, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA memberikan sambutan pada acara ''Wakaf Goes To Campus'' di Unair Surabaya beberapa waktu lalu

Surabaya, BWI,- Kenapa gerakan wakaf sekarang banyak menyasar kalangan anak muda, khususnya mahasiswa? Bukankah yang seharusnya memanfaatkan kesempatan untuk segera berwakaf kalangan orang tua, sehingga ada amal abadi yang akan selalu diterima pahalanya walau mereka sudah meninggal dunia?

 

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu dilontarkan oleh Ketua Badan Wakaf Ondonesia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA saat mengawali ceramahnya dalam setiap kesempatan. Saat memberikan sambutan pada penyelenggaraan ‘’Wakaf Goes To Campus’’ di Surabaya beberapa waktu lalu, pertanyaan senada juga dilontarkan kembali.

 

 

Ternyata, anak muda punya nilai sangat strategis dalam usaha pengembangan wakaf di negara kita yang mayoritas pendudknya beragama Islam. Bahkan, Nabi Muhammad sukses membawa misinya sebagai Rasulullah, salah satu faktornya, karena dikelilingi anak-anak muda. Sahabat Ali radiyallahu anhu, masih berusia 8 tahun saat masuk Islam. Sahabat Umar bin Khattab baru 27 tahun. Sahabat Abu Bakar Ash Shidiq berusia 37 tahun. Bahkan, Al Fatih, penumbang Kerajaan Bizantium, baru berusia 22 tahun.

 

‘’Jadi, jangan remehkan anak muda,’’ tegasnya, yang disambut dengan tepuk tangan bergemuruh para peserta kegiatan ‘’Wakaf Goes To Campus’’ (WGTC) ke III yang dipusatkan di Kampus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang sangat meriah.

 

Unair merupakan satu-satunya kampus universitas negeri di seluruh tanah air yang menjadi nazhir atau pengelola wakaf uang dan mendapatkan sertifikat resmi kenazhirannya dari BWI, secara resmi melakukan gerakann wakaf uang seribu rupiah (Gebu). Mendikbud era Presiden SBY itu menilai, Gebu itu jangan hanya dilihat nilainya yang hanya seribu rupiah. Tetapi ada nilai strategis di dalamnya.

 

Dengan Gebu, katanya lebih lanjut, akan memperbanyak anak muda berwakaf atau menjadi wakif. ‘’Dan, saya yakin mereka tidak akan berwakaf dengan duit seribu rupiah, tetapi mereka akan terus menerus berwakaf sesuai kemampuannya. Itu berarti, kita membangun budaya berwakaf bagi kalangan anak muda. Sehingga untuk masa depan, mereka akan menjadi kelompok kelas menengah terdidik yang militan dalam pengembangan wakaf produktif. Bahkan, mereka bukan berwakaf seribu rupiah, tetapi jadi seribu dollar,’’ tegasnya, yang lagi-lagi mendapat aplaus dari para hadirin yang sebagian besar kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya.

 

Mantan Rektor ITS Surabaya itu menyadari, adanya anak muda terdidik yang militan dalam berwakaf, tidak cukup dalam usaha mengembangan wakaf produktif. Masih diperlukan nazhir-nazhir yang punya kreatifitas tinggi untuk mengelola wakaf tersebut. Karena pokok harta wakaf itu tidak boleh berkurang sedikitpun, melainkan harus dikelola hingga punya nilai lebih.

 

‘’Nilai lebih itulah, yang bisa dimanfaatkan untuk kalangan penerima manfaat wakaf atau mauquf alaih,’’ tegasnya.

 

Jadi, nazhir itu punya nilai yang sangat strategis untuk mengembangkan harta wakaf. Oleh karena itu, Ketua BWI periode 2017-2020 itu, menyatakan seorang nazhir dituntut memiliki kreatifitas tinggi.

 

‘’Untuk itu saya mengajak para pebisnis yang sukses atau pimpinan bank atau perusahaan yang punya pengalaman sukses dalam dunia usaha, untuk bisa menjadi nazhir. Sehingga usaha untuk menjadikan wakaf sebagai instrument perekonomian nasional, demi kesejahteraan masyarakat, bisa terwujud,’’ tegasnya.

 

Selain itu, Guru Besar ITS itu juga mengingatkan, para nazhir serta lembaga-lembaga pengelola harta wakaf, bukan saatnya lagi untuk berkompetisi di antara sesamanya, melainkan harus bersinergi di antara mereka. Karena potensi wakaf di Indonesia dengan jumlah penduduk Islam yang mencapai lebih 200 juta, jelas potensi yang luar biasa besarnya. Sehingga, kalau potensi itu bisa digarap bersama-sama, maka potensi yang maksimal itu akan menjadi daya yang maksimal juga.

 

‘’Itu semua akan menjadi suatu kekuatan ekonomi yang luar biasa. Universitas Al Azhar, Mesir dan berbagai perguruan tinggi Islam lainnya, bisa memberikan bes siswa full pada seluruh mahasiswanya dari berbagai negara, juga menggunakan dana wakaf. Bahkan, wakaf di Mesir mampu membayar hutang negaranya,’’ tegasnya kemudian.

 

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.