English (United Kingdom)Arabic(السعودية)Indonesian (Indonesia)
Datangi UI, Ketua BWI Paparkan Konsep Wakaf PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Humas   
Jumat, 25 Mei 2018 09:24

 

 

Jakarta - Badan Wakaf Indonesia (BWI) akan berkeliling kampus-kampus untuk memperkenalkan wakaf secara lebih luas. Kegiatan ini dilakukan karena pemahaman wakaf di masyarakat masih sempit. Ketua BWI Muhammad Nuh mengatakan masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan antara wakaf, infak, dan sedekah. Dia mengatakan wakaf tak hanya seputar menyumbangkan tanah untuk dijadikan kuburan atau yang lainnya. Wakaf bisa berupa uang yang nantinya akan dimanfaatkan untuk membangun sekolah, panti asuhan, dan lainnya.

 

"Semua orang tahu betul potensi wakaf itu. Potensi yang sangat besar itu belum dilakukan konversi kekuatan dahsyat, kekuatan yang meningkatkan kesejahteraan. Bisa dibayangkan sekarang orang wakaf berupa tanah jumlahnya sekitar 5 miliar meter persegi tersebar di seluruh Indonesia belum lagi yang berupa uang dan seterusnya," kata Nuh di Kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (24/5/2018).

 

Dia berharap 'Wakaf Goes to Campus' dapat membuat mahasiswa sebagai pioner. Sehingga semakin banyak yang memberikan wakafnya, menjadi pengelola wakaf maupun orang yang menerima wakaf.

 

"Kita harapkan semakin intensnya anak-anak muda kita terhadap perwakafan, semoga dia semakin efektif sehingga ada dampak peningkatan kesejahteraan masyarakat, semakin banyak entrepreneur. Ketiga semakin mantap pengetahuan kita dan ujungnya kita harapkan nanti semakin banyak orang berkontribusi ke negara sendiri," kata Nuh.

 

Dia mengatakan selain tanah, wakaf juga bisa berupa barang-barang dinamis maupun temporer. Jika ada warga yang mau mewakafkan uangnya, bisa juga suatu saat uang itu diambil kembali. Nuh mengatakan saat ini wakaf sudah mudah yakni dengan mengunjungi bank-bank yang mendapat izin dari lembaga keuangan syariah.

 

"Masih bayak orang anggap wakaf itu hanya tanah. Padahal ada wakaf barang statis tanah dan dinamis dan temporer misalnya ada mau wakafkan Rp 5 juta tapi 5 tahun aja, habis 5 tahun itu (uangnya) diambil lagi itu boleh," kata mantan Mendikbud ini.

 

Senada dengan Nuh, Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis mengucapkan terima kasih kepada BWI yang telah mempercayai UI sebagai kampus pertama digelarnya acara ini. Ia mengatakan saat ini perlu adanya literasi secara insentif mengenai wakaf untuk dapat dijadikan salah satu sumber perbaikan ekonomi anak bangsa dan menambah kesejahteraan bangsa.

 

"Tentu kegiatan ini tadi saya juga berbincang untuk bisa digulirkan seperti halnya kita melihat bola-bola salju yang bergulir terus sehingga jadi besar. Manfaat tadi sudah disampaikan tentu kita lihat potensi-potensi yang ada di akademika," kata Anis.

(jbr/van)

 

Sumber: Detik News

 

 

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.