English (United Kingdom)Arabic(السعودية)Indonesian (Indonesia)
BI Terus Berupaya Alihkan SBI ke SBN PDF Cetak E-mail
Senin, 23 November 2009 10:24

Jakarta - Kian mahalnya ongkos moneter akibat tingginya beban bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), memacu BI untuk mengganti instrumen SBI dengan instrumen moneter lain. Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Agus Sarwono mengungkapkan, sampai saat ini BI masih terus mengumpulkan stok surat berharga negara (SBN) yang terdiri atas Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN). "Kami melakukannya secara bertahap, karena membeli SPN berarti ekspansi moneter yang harus terukur," kata Hartadi.

 

Sejatinya, langkah penggantian SBI dengan instrumen SBN sudah lama bergaung. Wacana yang bergulir sejak tahun 2005 itu akhirnya terlaksana mulai 2007.

 

Namun perkembangan rencana itu tidak menggembirakan. Outstanding dana di SBI terus naik, sementara SBN tumbuh lamban. Per 6 November, nilai total SBN sebesar Rp 27,3 triliun. Perinciannya, SUN dan SPN masing-masing senilai Rp 16,2 triliun dan Rp 8,4 triliun.

 

Sedangkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp 2,7 triliun. Adapun SBI, BI meramal nilainya akan tembus Rp 300 triliun pada 2010.

 

Hartadi menuturkan, sekarang BI masih intens berdiskusi dengan Departemen Keuangan untuk meningkatkan stok SBN dalam rangka asset liability management (ALM). "Hasilnya akan saya ceritakan nanti," janjinya.

 

BI, kata Hartadi, akan terus mengupayakan pengalihan ini agar pengelolaan moneter tidak bergantung pada SBI. Karena beban bunga SBI, akhir tahun ini, neraca BI diperhitungkan bakal defisit Rp 1,9 triliun. Tahun 2010, defisit itu akan melompat lebih dahsyat lagi, menjadi Rp 22,4 triliun.

 

BI mengaku membayar mahal bunga SBI karena tak leluasa menentukan bunga instrumen tersebut. "Jika bunga SBI dekat dengan inflasi, bisa terjadi capital outflow," kata Pejabat Sementara Gubernur BI Darmin Nasution.

 

Saat ini, dana asing di SBI sekitar Rp 47 triliun. Meski porsinya tak banyak, namun keluar masuk dana jangka pendek asing alias hot money, kerap menggoyang rupiah. (ruisa/kntn)

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.