WIEF, Jembatani Investor Muslim Print
Lintas Berita
Wednesday, 05 December 2012 09:57

Johor Bahru - Perhelatan akbar tengah di gelar di Johor Baru, Malaysia. Pertemuan ini mirip dengan World Economic Forum (WEF) yang diramaikan oleh kepala negara dan ekonom negara-negara maju. Mirip dengan itu, namanya World Islamic Economic Forum (WIEF). Mungkin tak sepopuler WEF, keberadaan WIEF ini sudah kali ke-8 mengadakan pertemuan.


Acara yang digelar pada 4-6 Desemberini dibuka oleh Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak, di Persada Johor International Convention Centre, Johor Bahru. Acara ini diikuti 1.500 delegasi dari 62 negara.

Delegasi dari Indonesia yang angkat bicara dalam forum tersebut antara lain adalah mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Tanri Abeng. Menurutnya, keberadaan forum ini sangat penting. Meski bernama Forum Ekonomi Islam Dunia, namun hal itu bukan berarti membuat ketertutupan terhadap ekonomo nonMuslim. Forum ini justru diharapkan menjadi jembatan bagi negara-negara muslim untuk memajukan perekonomian negaranya dengan menggandeng investor dari negara non Muslim untuk bekerjasama berinvestasi.

“Kalau dunia memiliki Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Islam memiliki WIEF. Ini kan hanya penambahan Islam saja,” kata Tanri kepada “PR” di sela-selama forum kemarin.

Tanri sangat menyayangkan karena kurang banyaknya pengusaha Indonesia yang bergabung dalam forum ini. Padahal, forum ini memiliki potensi yang luar biasa, terlebih lagi di tengan terjadinya trend perubahan dunia. “Krisi Eropa dan Amerika sebenarnya akan semakin menjadi peluang bagi Indonesia. Sebab, para pemilik uang dari beberapa negara kaya minyak di Timur Tengah, akan mengalihkan uangnya ke kawasan Timur.

Ke depan, ada peralihan dari Barat ke Timur, meski selama ini uang yang diinvestasikan negara-negara Barat di berbagai negara, termasuk Indonesia sebagian berasal dari dana-dana asal Timur Tengah yang disimpan di sana (negara Eropa dan Amerika Serikat, red.),” kata Tanri yang aktif WIEF.

Menurut Tanri Abeng, sedikitnya ada dua tantangan bagi Indonesia dalam upaya menggiring investor atau pengusaha asing bisa lebih banyak masuk ke Indonesia. Pertama, pembangunan ekonomi yang masih terlalu terkonsentrasi di Pulau Jawa. “Ini perlu diperhatikan, dengan cara membangun infrastruktur yang lebih bagus. Jika pembangunan infrastruktur tidak dipercepat, itu akan menjadi bebab bagi perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Kedua, Tanri juga menginginkan agar pemerintah Indonesia membangun pendidikan yang relevan dengan kondisi riil yang dinginkan. Sebab, jika pendidikan tidak relevan, maka akan semakin banyak lulusannya yang menganggur. Ini akan menjadi masalah.

Menurut Tanri, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak dunia, Indonesia akan menjadi salah satu negara sasaran bagi para investor Timur Tengah yang selama ini menyimpan dananya di Eropa dan Amerika Serikat. Ke depan, mereka akan berlomba-lomba datang ke Asia, dan Indonesia menjadi salah satu tujuannya. (PkrnRkyt/A-75/A-108)