Bank Syariah Makin Berkibar Print
Lintas Berita
Wednesday, 25 January 2012 09:42

Jakarta - Di ranah perbankan nasional, bisnis perbankan syariah memang belum terlalu besar. Hingga akhir Desember tahun lalu, asset yang dikuasai Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS) dan BPR Syariah, baru mencapai Rp149 triliun. Itu berarti hanya empat persen dari total asset perbankan nasional yang mencapai sekitar Rp3.700 triliun.


Namun, kendati masih kontet, kinerja lembaga keuangan berlabel halal ini berhasil mencatatkan pertumbuhan yang mengagumkan. Dari sisi aset saja, perbankan syariah mencatatkan peningkatan hampir 22%. Lebih tinggi dari pertumbuhan perbankan secara nasional yang 21,5%.

Sementara nilai dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dikumpulkan melonjak 51,8% menjadi Rp118 triliun. Dan yang tak kalah menarik adalah kenaikan nilai pembiayaan yang mencapai 50,6%, dengan nilai total dana yang dikucurkan Rp105 trilliun. Dari dua angka ini saja terlihat jelas, pembiayaan berbanding DPK perbankan syariah mencapai 89%.

Jika disandingkan dengan loan to deposit ratio (LDR) perbankan secara nasional, yang baru mencapai 81,4%, apa yang dicapai perbankan syariah layak mendapat acungan jempol. Itu merupakan angka rata-rata. Sebab, masih ada sejumlah bank kelas kakap (seperti BCA) yang tingkat LDR-nya masih jauh dari keharusan yang ditetapkan BI, yakni antara 78-100%.

“Ini karena pemain di syariah terus bertambah,” kata Mulya Effendi Siregar, Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI. Tahun ini saja, yang sudah pasti, BI tengah memproses perizinan baru untuk pembukaan 36 BPR Syariah dan dua BUS. “Di luar itu, yang antre masih banyak,” kata seorang pejabat BI lainnya.

Yang tak kalah menarik, pembiayaan bermasalah yang ditanggung perbankan syariah juga masih tergolong sehat, yakni hanya 2,9% net (3,6% gross). Artinya masih jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan bank sentral (5%). Dan, yang perlu dicatat, pembiayaan bermasalah di syariah hanya sedikit lebih tinggi dari tingkat kredit bermasalah (NPL) perbankan secara nasional yang 2,7%. [mdr/inilah]